Surat untuk Kekasihku
Kekasihku, aku benar-benar ingin meminta maaf kepadamu. Sungguh, aku
meminta maaf dengan segala kerendahan hatiku. Ya, aku bersalah. Sekali lagi,
maafkan aku.
Kita akan menikah, bukan? Ya, beberapa waktu lagi kita akan menjadi ‘partner in
life’. Jadi, maafkan aku
bila aku melakukan ini saat ini, sebelum kita menjadi satu tentunya.
Iya, aku melakukan sesuatu di belakangmu. Entahlah. Apa ini bisa disebut
sebagai pengkhianatan? Sungguh, aku sama sekali tak berniat demikian. Tidak
sama sekali.
Kau tahu apa yang aku lakukan tanpa sepengetahuanmu? Emm.. aku diam-diam
mengingatnya lagi, mengenangnya lagi. Iya, dia cinta pertamaku. Aku pun tak
tahu kenapa. Aku benar-benar tak tahu kenapa.
Apa? Kau berpikir jika aku masih mencintainya? Tidak, tidak. Bagaimana
mungkin aku mencintai dua pria sekaligus? Tidak mungkin, bukan? Aku akan
menikah denganmu. Kaulah yang aku butuhkan. Percayalah.
Kau tahu? Aku mungkin hanya penasaran terhadap perasaannya padaku dulu. Aku
mungkin belum berhasil melupakan perasaanku padanya dan menghapus kenangannya.
Tapi, kau tenang saja. Setelah ini, aku akan melupakan bagaimana aku
mencintainya dulu. Dan setelah kita nanti menjadi satu, hanya akan ada kau
saja.
Tunggu, apa kau sudah membaca suratku untuk cinta pertamaku itu? Apa? Kau
mengira aku benar-benar melakukannya? Ah, kau belum tahu aku sepertinya.
Bukankah aku ini seorang penulis? Jadi, kau tenang saja. Percayalah padaku.
Hanya itu.
Apa kau bisa menerimanya?
Ya, terima kasih.
*Tuesday..April 16th, 2013 – 02:06 p.m.
Komentar
Posting Komentar