Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

TERJEBAK DI PERAPIAN RINDU

Kueja namamu yang tak pernah mampu kusaput dengan lelehan tinta api sekalipun Kutera ceritamu di tiap halaman yang tertuang seiring lengkingan syahdu Kukenang imajimu pada bebait sajak tanpa nama Pada bulan yang di remang cahayanya ada serupa bentuk bayangmu, kubisikkan seutas rindu yang mulai layu Pada hujan yang di rerintiknya berkelebat kenanganmu, kuhaturkan salam hampa yang menjelma Ada secuil candu yang menggiring nafasku pada tungku perapian rindu ini Aku terjebak dalam batas asa yang tak terbaca oleh rupa sunyata Maka, kemanakah lagi kupalingkan untaian resah ini? Bila rasa yang tercipta tak lagi bersarang di beranda senyummu, Biarlah datangnya malam meleburkan semua fatamorgana Dan senja akan membawa kita berlabuh di dermaga keabadian Lalu memisahkannya di persimpangan arus yang tak saling bermuara  

UKIRAN JANJI-NYA

Ada yang mengukir kemenangan Didendangkannya riang tawa semalaman Ada yang menyulam sendu Dibisikannya kegalauan pada Yang Maha Tahu Duhai manusia Tak apa kau bahagia Bersabarlah Bukan masalah kau berderai air mata Bersyukurlah Di sana, telah tercipta selaksa cahaya bagi tiap-tiap usaha Di sana, telah terpatri jutaan tawa untuk tiap tetes air mata Yara Purnama, EMPANG, 01122013 - 06:00

Aku Pergi dalam Ketidaktahuan

Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu hitam atau putih, Aku buta Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu teriakan atau bisikan, Aku tuli Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu tangis atau tawa, Aku bisu Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu manis atau pahit, Aku mati rasa Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu cinta atau luka, Aku hilang Kali ini aku pergi dalam ketidaktahuan Bukan mimpi ataupun angan-angan, Aku hidup kembali _Tiara Purnamasari on April 19th, 2013 at 6.20 p.m._

Cinta Pertamaku

Masih sama.. Debaran itu masih sama rasanya. Entah karena apa, kau hinggap lagi di pikiranku Membangkitkan riak-riak kenangan itu lagi Berdosakah aku bila masih mengingatmu? Aku pun tak tahu. Dan aku sama sekali tak ingin membuangmu dari memoriku ini Terlalu indah rasanya! Lalu, apa yang harus aku lakukan? Hatiku selalu saja terbagi lagi. Dan itu karenamu. Mungkin, aku hanya masih dan akan selalu mengenangmu Sebagai cinta pertamaku..... *Dulu...*

Untukmu

Tak ada lagi malam dengan tangisan kegelisahan Tak ada lagi tangisan untuk sebuah pengharapan Tak ada lagi kegelisahan untuk sebuah penantian Dan takkan ada lagi harapan-harapan yang membuatnya sedikit kokoh Dan meski semuanya takkan ada untuk sekedar menghapus keraguan, Tapi rindu ini masih tetap terjaga untuk sekedar menemani kehampaan, Dan rindu ini masih tetap tersimpan untuk satu kisah, Kisah tentang pangeran dalam hatiku..

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti, Suaraku tak terdengar lagi, Tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati,   Pada suatu hari nanti, Impianku pun tak dikenal lagi, Namun di sela-sela huruf sajak ini, Kau tak akan letih-letihnya kucari. *Sapardi Djoko Damono*

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. *Sapardi Djoko Damono*

Apa yang tidak pernah, bukan berarti

Apa yang tidak pernah tersampaikan oleh kata-kata Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan Apa yang tidak pernah dituliskan oleh huruf-huruf Bukan berarti dia tidak pernah dituliskan Apa yang tidak pernah dikirimkan lewat pak pos, mamang kurir, atau sekadar angin, perantara bulan purnama, bintang-gemintang Maka bukan berarti dia tidak pernah dikirimkan Apa yang tidak pernah dihamparkan di atas rumput menghijau, di atas halaman sekolah, atau sekadar di langit-langit kamar Maka bukan berarti dia tidak pernah terhamparkan Wahai, boleh jadi sungguh hal itu telah disampaikan, oleh kerling mata Boleh jadi sungguh sudah dituliskan, lewat gesture wajah Mungkin saja sudah dikirimkan, melalui simbol-simbol laksana simbol asap suku pedalaman Dan bahkan telah dihamparkan melalui semuanya, segalanya Tidakkah kau mengerti? Sungguh, apa yang tidak pernah dibisikkan oleh mulut kita Bukan berarti dia tidak pernah dipanjatkan Dipanjatkan lewat doa-doa, lewat diam, lewat keheningan hati yang terhormat...

Mencintaimu

Di ujung harapku, kau berpaling sekali lagi Dalam letihnya cintaku, Kau selalu membuatku tersungkur Tapi aku yang tak tahu malu ini, Selalu mencoba menapaki apa yang kau cari. Meski terseret, terseok dan tertatih, Aku tak peduli Walau hanya penat yang aku dapat Tak pernah aku merasa sia-sia dengan ini Aku hanya ingin terus mencintaimu Karena suatu saat, ketika semua ini terhenti dengan sendirinya, aku akan melihatmu tersenyum dan meraih tanganku *masih di saat yang sama, saat ketika satu cinta memenuhi relung hatiku,,   kutulis puisi ini untuknya...

Mimpiku

Mimpiku, kini telah tak lagi menjadi kehidupanku. Ia hanya menghampiri di saat-saat sepiku, Atau melintas di balik wajah seseorang Aku rindu mimpi itu. Tapi, meski seperti apa Takkan pernah ia menjadi nyata di hidupku. Dan aku, akan tetap seperti ini dengan mimpiku yang terlewatkan.. *Ditulis ketika aku berkelana di sebuah kota, Cikarang..   Saat itu, aku berpikir semua mimpiku tentangmu hanya akan menjadi mimpi..