Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kutipan

Bulan dan Malam

Gambar
Kau adalah Bulan, dan aku adalah Malam. Sepatutnya, Bulan selalu merindukan Malam. Karena apalah artinya Bulan tanpa malam?  Namun, kau bukanlah Bulan yang selalu merindukan Malam. Kau tak pernah menginginkan Malam untuk datang dan menemanimu. Tapi kau pasti tahu. Malam tetaplah Malam, meski Bulan tak ada dan tak menginginkan Malam ada. Dan Malam akan selalu merindukan Bulan dan menjaganya dalam pelukan. Seperti aku yang akan selalu merindukanmu di setiap pergantian waktu dan selalu menjagamu di setiap mimpi yang tak berkesudahan. *Terinspirasi dari salah satu kutipan di novel berjudul Simfoni Bulan karangan Feby Indirani*

Bukankah, atau bukankah

Bukankah, banyak yang berharap jawaban dari seseorang? yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya "jadi, jawaban apa yang harus diberikan?" Bukankah, banyak yang menanti penjelasan dari seseorang? yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa "aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?" Bukankah, banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji "kau menungguku? sejak kapan?" Bukankah, banyak yang menambatkan harapan yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga "akan kau tambatkan di mana?" Bukankah, banyak yang menatap dari kejauhan yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain Bukankah, banyak yang menulis puisi, sajak2, surat2, tulisan2 yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama pun bagaimanalah akan membacanya Aduhai, urusan pe...

Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian*

Kepada kamu, Dengan penuh kebencian. Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar. Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya? Aku benci haru...

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti, Suaraku tak terdengar lagi, Tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati,   Pada suatu hari nanti, Impianku pun tak dikenal lagi, Namun di sela-sela huruf sajak ini, Kau tak akan letih-letihnya kucari. *Sapardi Djoko Damono*

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. *Sapardi Djoko Damono*

Apa yang tidak pernah, bukan berarti

Apa yang tidak pernah tersampaikan oleh kata-kata Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan Apa yang tidak pernah dituliskan oleh huruf-huruf Bukan berarti dia tidak pernah dituliskan Apa yang tidak pernah dikirimkan lewat pak pos, mamang kurir, atau sekadar angin, perantara bulan purnama, bintang-gemintang Maka bukan berarti dia tidak pernah dikirimkan Apa yang tidak pernah dihamparkan di atas rumput menghijau, di atas halaman sekolah, atau sekadar di langit-langit kamar Maka bukan berarti dia tidak pernah terhamparkan Wahai, boleh jadi sungguh hal itu telah disampaikan, oleh kerling mata Boleh jadi sungguh sudah dituliskan, lewat gesture wajah Mungkin saja sudah dikirimkan, melalui simbol-simbol laksana simbol asap suku pedalaman Dan bahkan telah dihamparkan melalui semuanya, segalanya Tidakkah kau mengerti? Sungguh, apa yang tidak pernah dibisikkan oleh mulut kita Bukan berarti dia tidak pernah dipanjatkan Dipanjatkan lewat doa-doa, lewat diam, lewat keheningan hati yang terhormat...

Memilikimu

Saya mencintai sunset, menatap kaki langit, ombak berdebum Tapi saya tidak akan pernah membawa pulang matahari ke rumah, kalaupun itu bisa dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan Saya menyukai bulan, entah itu sabit, purnama, tergantung di langit sana Tapi saya tidak akan memasukkannya dalam ransel, kalaupun itu mudah dilakukan, tetap tidak akan saya lakukan Saya menyayangi serumpun mawar berbunga warna-warni, mekar semerbak Tapi saya tidak akan memotongnya, meletakkannya di kamar tentu bisa dilakukan, apa susahnya, namun tidak akan pernah saya lakukan Saya mengasihi kunang-kunang terbang mendesing, kerlap-kerlip, di atas rerumputan gelap Tapi saya tidak akan menangkapnya, dibotolkan, menjadi penghias di meja makan tentu masuk akal dilakukan, pakai perangkap, namun tidak akan pernah saya lakukan Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini Yang jika memang demikian, tidak harus ...

20 Ciri Kedewasaan Yang Sesungguhnya

Marc & Angel (2007) mengemukakan bahwa kedewasaan seseorang bukanlah terletak pada ukuran usianya, tetapi justru pada sejauh mana tingkat  kematangan emosional yang dimilikinya. Berikut ini pemikirannya tentang ciri-ciri atau karakteristik kedewasaan seseorang yang sesungguhnya  dilihat dari kematangan emosionalnya. 1.    Tumbuhnya kesadaran bahwa kematangan bukanlah  suatu keadaan tetapi merupakan sebuah proses berkelanjutan dan secara terus menerus berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan diri. 2.    Memiliki kemampuan mengelola diri  dari perasaan cemburu dan iri hati. 3.    Memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengevaluasi dari sudut pandang orang lain. 4.    Memiliki kemampuan memelihara kesabaran dan fleksibilitas dalam kehidupan sehari-hari. 5.    Memiliki kemampuan menerima fakta bahwa seseorang tidak selamanya dapat menjadi pemenang dan mau belajar dari b...

Lumpur Similiar

        Dalam masa-masa penantianku menyusun skripsi, waktuku lebih banyak kuhabiskan di rumah. Alhasil, aku lebih banyak menghabiskan waktuku buat baca-baca novel, nulis-nulis gak jelas dan nonton film-film kesukaan.         Oiya, kemarin lalu aku membaca novel yang berjudul LUMPUR SIMILIAR: Misteri Perangkap Cinta karangan Alfian Malik. Awalnya aku tak begitu antusias, karena aku rasa awalnya kurang greget ni novel. Tapi, setelah baca halaman per halaman, seru juga. Isinya aneh. Baru kali ini aku baca cerita seperti itu. Hmm ceritanya tentang ilmu hitam dan ilmu putih gitu. Tapi, overall novelnya bagus. Ceritanya mengalir seperti dongeng terkini.         Eits.. Tapi, saat ini aku gak bakalan ceritain isi tuh novel atau nulis resensinya,  aku cuma tertarik untuk menuliskan salah satu percakapan tokoh utama, Tegar Patih dengan seorang kakek yang menolongnya sewaktu ia mengala...

Yang mengesankan.. ^^

Gambar
..... "Nama mas siapa?" "Kalau kita saling kenal dan tidak lagi bertemu, itu akan hanya menyisakan bayangan." "Mengapa kitak tidak berusaha untuk mengenal untuk berusaha bertemu?" "Karena pertemuan pertama akan menyisakan rasa penasaran. Dan pertemuan kedua akan menyisakan rasa rindu. Dan saya tidak mau merindu." "Maksudnya?" "Biar takdir yang mempertemukan kita. Saya akan mengingat wajah mbak. Kalaupun mbak tidak ingat wajah saya, yang penting saya mengingat nama Syahdu." "Semoga kita bertemu lagi." "Semoga Allah memberikan yang terbaik buat kita" ..... >Pertemuan pertama Syahdu & Ifand Abdussalam @Kehormatan di Balik Kerudung #Sukaaa bgt percakapan ini dan film ini tentunya..^0^#

Perbedaan Cara Pandang Pria dan Wanita Terhadap Cintanya

Sebenarnya, cinta semua orang sama saja dan begitulah. Cinta itu sesuatu yang hakiki yang datang dari Sang Pemilik Cinta. Namun, ada perbedaan antara pria dan wanita dalam memandang orang yang dicintainya. Seperti apakah perbedaan itu?? Cekidot . :D Pria memandang wanita yang dicintainya sebagai barang istimewa yang ia miliki, dan orang lain tak berhak memperoleh dengan cara apapun juga. Pria akan cemburu jika ada orang lain yang melirik, memberi pujian, senyuman dan kekaguman terhadap kekasihnya. Ia berpikir orang yang memandang, menghormati dan berbicara tentang kecantikan dan keindahan tubuh kekasihnya adalah sekelompok orang yang melanggar hukum dan melakukan pencurian, seakan mereka telah mencuri harta miliknya dari lemari. Sedangkan wanita memandang pria yang dicintainya seperti melihat perhiasan yang dipakainya, yang menjadi bangga dan menentukan kedudukannya di depan teman-teman serta wanita sesamanya. Wanita mencintai pria dengan rasa bangga dan sombong. Ia mema...