Postingan

Kepada Kamu, yang Namanya Tak Boleh Disebut

Tasikmalaya, 22 Januari 2013 Kepada kamu –yang namanya tak boleh disebut Barangkali pernah ada kata “kita” untuk beberapa saat yang lalu. Aku dan kamu, berdua meniti rasa yang mungkin terlalu dangkal kupahami kala itu. Kupikir segala tentang “kita” benar adanya. Namun ternyata, aku terjebak dalam dusta yang menjelma di balik balutan asmara. Tentunya kau masih ingat bukan apa yang pernah terjadi pada “kita”? Ah, kau tenang saja. Aku tak bermaksud mengeja kembali satu per satu khilaf yang pernah kau mainkan untukku. Tidak sama sekali. Aku hanya perlu menuliskan apa yang berlesakkan dalam benakku untukmu. Tak apa, bukan? Oh ya, sakit itu sudah berlalu sekarang, meski aroma luka itu masih dapat kucium dengan jelas. Bahkan, kenangan tentangmu pun masih selalu berkelebat di balik ranting basah usai hujan datang. Hm, aku tak akan mengelak jika bayanganmu memang masih dapat kutemui saat senja menghilang berganti pekat di pekarangan. Bukan karena aku tak mampu move on sepert...

TERJEBAK DI PERAPIAN RINDU

Kueja namamu yang tak pernah mampu kusaput dengan lelehan tinta api sekalipun Kutera ceritamu di tiap halaman yang tertuang seiring lengkingan syahdu Kukenang imajimu pada bebait sajak tanpa nama Pada bulan yang di remang cahayanya ada serupa bentuk bayangmu, kubisikkan seutas rindu yang mulai layu Pada hujan yang di rerintiknya berkelebat kenanganmu, kuhaturkan salam hampa yang menjelma Ada secuil candu yang menggiring nafasku pada tungku perapian rindu ini Aku terjebak dalam batas asa yang tak terbaca oleh rupa sunyata Maka, kemanakah lagi kupalingkan untaian resah ini? Bila rasa yang tercipta tak lagi bersarang di beranda senyummu, Biarlah datangnya malam meleburkan semua fatamorgana Dan senja akan membawa kita berlabuh di dermaga keabadian Lalu memisahkannya di persimpangan arus yang tak saling bermuara  

Surat untuk Mantan Kekasih Adik Saya

Tasikmalaya, 3 Desember 2013 Kepada mantan kekasih adik saya Assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh Hallo, apa kabar? Semoga saja kamu baik-baik saja di suatu tempat. Emm, apa kamu masih mengingat saya? Saya harap kamu memiliki ingatan yang cukup bagus. Emm, ya, saya kakak perempuan dari perempuan yang pernah mengisi hari-harimu untuk beberapa waktu dulu. Saya sebenarnya tidak tahu harus menuliskan apa di dalam surat ini, tapi saya pernah berjanji kepada adik saya –mantan kekasih kamu– untuk menulis surat kepadamu. Baiklah, saya awali surat ini dengan ucapan terima kasih kepada kamu. Terima kasih kamu pernah membuat hari-hari adik saya seakan berada di hamparan bunga-bunga dahlia. Terima kasih karena pernah membuat senyumnya merekah di bibirnya yang indah, walau kini jarang sekali saya temukan senyuman seperti itu tersungging di bibirnya. Terima kasih juga karena dalam waktu yang sama kamu sebenarnya sedang melakukan tipu daya yang kejam padanya. Kepada...

UKIRAN JANJI-NYA

Ada yang mengukir kemenangan Didendangkannya riang tawa semalaman Ada yang menyulam sendu Dibisikannya kegalauan pada Yang Maha Tahu Duhai manusia Tak apa kau bahagia Bersabarlah Bukan masalah kau berderai air mata Bersyukurlah Di sana, telah tercipta selaksa cahaya bagi tiap-tiap usaha Di sana, telah terpatri jutaan tawa untuk tiap tetes air mata Yara Purnama, EMPANG, 01122013 - 06:00

UANG

             Uang.             U-wang.         Aku mencoba mengingat-ingat kata itu. Ah, tapi percuma saja. Aku tetap tak bisa mengingatnya. Sekalipun saat ini aku ingat, beberapa waktu lagi ingatan itu akan segera menguap menyisakan kosong. Sungguh payah ingatanku saat ini.             Ada apa sebenarnya dengan kata itu? Mengapa setiap kali tetangga baruku meneriakkan kata ‘uang’ darahku mendidih seketika?        Apakah uang itu satu makhluk yang menyebabkan istri dan anak-anakku pergi meninggalkanku? Apakah ia juga yang menyebabkan teman-temanku menjatuhkanku? Dan apakah ia juga yang menyebabkan aku berada di sini –di sebuah tempat luas yang dikelilingi dengan tetangga-tetangga yang selalu menangis, tertawa dan berteriak tanpa sebab sepanjang ...
Download Cerpen English - Who Comes and Never Goes

TENTANG KEBAHAGIAAN

"Bahagia itu kita yang bikin, bukan mereka." Duh, tidak tahu kenapa diri ini selalu tergelitik ingin berkomentar setiap mendengar kalimat itu diujarkan, baik secara langsung ataupun tidak, sejak dulu hingga kini. Maaf, maaf sekali bagi yang pernah berujar, pernah menuliskan, bahkan menjadikan kalimat tersebut sebagai tagline pribadi. Tak ada maksud apa-apa selain hanya ingin berbagi. Sungguh. Ma ri kita mulai. Benarkah kita bisa membuat diri kita bahagia? Ya, sangat mungkin. Lalu, benarkah bukan mereka (orang lain di luar diri kita) yang bisa membuat kita bahagia? Bisa jadi. Oke. Pertanyaannya kita ubah sedikit, tapi masih mengacu pada kalimat tadi. Benarkah kita tidak bisa membuat diri kita tidak bahagia (sebut saja; sedih)? Saya rasa tidak. Lalu, benarkah mereka (orang lain di luar diri kita) yang bisa membuat kita bahagia? Tentu mungkin. Dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita bisa ambil satu kesimpulan bahwa siapapun bisa membuat kita ba...