Postingan

Bukankah, atau bukankah

Bukankah, banyak yang berharap jawaban dari seseorang? yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya "jadi, jawaban apa yang harus diberikan?" Bukankah, banyak yang menanti penjelasan dari seseorang? yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa "aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?" Bukankah, banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji "kau menungguku? sejak kapan?" Bukankah, banyak yang menambatkan harapan yang sayangnya, seseorang itu bahkan belum membangun dermaga "akan kau tambatkan di mana?" Bukankah, banyak yang menatap dari kejauhan yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain Bukankah, banyak yang menulis puisi, sajak2, surat2, tulisan2 yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama pun bagaimanalah akan membacanya Aduhai, urusan pe...

Aku Pergi dalam Ketidaktahuan

Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu hitam atau putih, Aku buta Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu teriakan atau bisikan, Aku tuli Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu tangis atau tawa, Aku bisu Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu manis atau pahit, Aku mati rasa Aku pergi dalam ketidaktahuan Entah itu cinta atau luka, Aku hilang Kali ini aku pergi dalam ketidaktahuan Bukan mimpi ataupun angan-angan, Aku hidup kembali _Tiara Purnamasari on April 19th, 2013 at 6.20 p.m._

Lirik Yang Terdalam - Peterpean

Kulepas semua yang ku inginkan Tak akan ku ulangi Maafkan jika kau kusayangi Dan bila kumenanti Pernahkah engkau coba mengerti Lihatlah ku disini Mungkinkah jika aku bermimpi Salahkah tuk menanti *** Takan lelah Aku menanti Tak hilang Cintaku ini Hingga saat kau tak kembali Kan kukenang di hati saja Kau telah tinggalkan Hati yang terdalam Hingga tiada cinta Tersisa dijiwa ^^^^^^^^^^ Aku lepas se mua tentangmu..  Kuharap tak ada lagi yang tersisa di sini..

Cinta Pertamaku

Masih sama.. Debaran itu masih sama rasanya. Entah karena apa, kau hinggap lagi di pikiranku Membangkitkan riak-riak kenangan itu lagi Berdosakah aku bila masih mengingatmu? Aku pun tak tahu. Dan aku sama sekali tak ingin membuangmu dari memoriku ini Terlalu indah rasanya! Lalu, apa yang harus aku lakukan? Hatiku selalu saja terbagi lagi. Dan itu karenamu. Mungkin, aku hanya masih dan akan selalu mengenangmu Sebagai cinta pertamaku..... *Dulu...*

Untukmu

Tak ada lagi malam dengan tangisan kegelisahan Tak ada lagi tangisan untuk sebuah pengharapan Tak ada lagi kegelisahan untuk sebuah penantian Dan takkan ada lagi harapan-harapan yang membuatnya sedikit kokoh Dan meski semuanya takkan ada untuk sekedar menghapus keraguan, Tapi rindu ini masih tetap terjaga untuk sekedar menemani kehampaan, Dan rindu ini masih tetap tersimpan untuk satu kisah, Kisah tentang pangeran dalam hatiku..

Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian*

Kepada kamu, Dengan penuh kebencian. Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar. Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya? Aku benci haru...

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri. Pada suatu hari nanti, Suaraku tak terdengar lagi, Tapi di antara larik-larik sajak ini. Kau akan tetap kusiasati,   Pada suatu hari nanti, Impianku pun tak dikenal lagi, Namun di sela-sela huruf sajak ini, Kau tak akan letih-letihnya kucari. *Sapardi Djoko Damono*